WELCOME to Carennina Clara Dita Blog - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.bD7JrUCb.dpuf
This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

CANCER COLON


MAKALAH   CANCER COLON
DISUSUN OLEH:
CARENNINA CLARA DITA
1110711064

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
PROGRAM S1 KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2011/2012


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan sehingga sampai saat ini kami dapat menyusun dan menyelesaikan tugas dari mata kuliah SISTEM PENCERNAAN yang kami beri judul: “CANCER COLON” . Penulisan Makalah ini merupakan tugas bagi Mahasiswa UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA khususnya untuk mahasiswa S1 keperawatan.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sedalam–dalamnya kepada Dosen tutor dan rekan – rekan yang telah turut serta memberikan saran maupun kritik yang sangat bermanfaat dalam penyusunan makalah ini. Akhir kata, kami berharap tugas ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua.



                                                                                                            Jakarta, 17 April 2013
                                                                          Penyusun








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . …...i
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . …..ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ………1
1.2     Tujuan      . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  …..1
1.3     metedologi penelitian       . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . …..1
1.4     ruang lingkup penulisan  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ……..2
1.5     Sistematika Penulisan      . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ….2
BAB II PEMBAHASAN
·                     Anatomi dan fisiologi Sistem Pencernaan............................................................................
·                     Definisi cancer colon..........……………………………………………………………….
·                     Etiologi cancer colon ..........…….......…………………………………………………….
·                     Tanda-gejala cancer colon.........………………………………………………………….
·                     Patofisiologis cancer colon ….........………………………………………………………
·                     Penatalaksanaan cancer colon.............................................................................................
·                     Komplikasi cancer colon......................................................................................................
·                     Pemeriksaan penunjang cancer colon...................................................................................
·                     Asuhan Keperawatan cancer colon ………........……….......……………………………...
·                     Journal cancer colon.............................................................................................................

BAB III PENUTUP
Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
DAFTAR PUSTAKA           
 

BAB I
PENDAHULUAN

1.             Latar Belakang Masalah

·         Kanker   kolon   adalah  suatu   bentuk   keganasan   dari  masa abnormal/neoplasma   yang   muncul   dari   jaringan   epithelial   dari colon (Brooker, 2001 )
·         Kanker   kolon/usus   besar   adalah  tumbuhnya   sel   kanker yang ganas di dalam  permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman, 2000 )

a.              Tujuan Penulisan
·  Tujuan Umum
Mahasiswa Keperawatan UPN veteran Jakarta mengetahui tentang cancer colon. Yang meliputi anatomi dan fisiologi esofagus, definisi, etiologi, patofisiologi, manisfestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, ASKEP Serta dapat mengaplikasikannya di  lapangan secara teori maupun praktek.
·  Tujuan Khusus  
Agar mahasiswa keperawatan UPN Veteran jakarta memahami tentang cancer colon dan bisa memahami lebih dalam juga mengaplikasikannya dengan baik dan benar secara teori maupun praktik di lapangan dan memenuhi nilai tugas makalah BLOK SISTEM PENCERNAAN.

b.             Metodologi penulisan
·  Mengumpulkan dari litelatur dan internet
·  Berdiskusi dengan teman kelompok dan teman beda kelompok

1.             Ruang lingkup penulisan
·  Anatomi dan fisiologi Sistem Perncernaan
·  Definisi cancer colon
·  Etiologi cancer colon
·  Tanda-gejala cancer colon
·  Patofisiologis cancer colon
·  Komplikasi cancer colon
·  Asuhan Keperawatan cancer colon
                       
1.             Sistematika Penulisan
BAB I                Pendahuluan berisi Latar Belakang, Tujuan, dan Sisitematika Penulisan.
BAB II              Berisikan isi yaitu anatomi dan fisiologi sel darah merah, definisi, etiologi, patofisiologi, komplikasi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, ASKEP
BAB III             Penutup berisi Kesimpulan.



BAB II

PEMBAHASAN
·                     Anatomi dan fisiologi Cancer Colon
Usus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1,5 m yang terbentang dari sekum hingga kanalis ani. Diameter usus besar sudah pasti lebih besar dari dari pada usus kecil, yaitu sekitar 6,5 cm, tetapi makin dekat anus diameternya semakin kecil.Kolon memiliki berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan dengan proses akhir isi usus. Fungsi kolon yang penting adalah absorbsi air dan elektrolit , yang sudah hampir selesai dalam kolon dextra. kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung masa feses yang sudah terdehidrasi hingga berlangsungnya defekasi. Usus besar terdiri dari caecum, appendix, kolon ascendens, kolon transversum, kolon descendens, kolon sigmoideum dan rektum serta anus
Caecum
Caecum adalah kantong adalah kantong lebar, terletak pada fossa iliaca dextra. Ileum memasuki kirinya pada lubang ileosekal, celah oval yang dikontrol oleh sfingter otot. Appendiks membuka ke dalam ceacum di bawah lubang ilosekal. Caecum berlanjut ke atas sebagai colon ascendes.
Appendix
Appendiks adalah tomjolan seperti cacing panjang sampai 18 cm dan membuka pada caecum pada sekitar 2,5 cm di bawah katup ileosekal.appendiks memiliki lumen yang sempit. Lapisan submukosanya mengandung banyak jaringan limfe. Appendiks berhubungan dengan mesenterium ileum oleh mesenterium pendek berbentuk segitiga yang di dalamnya berjalan pembuluh darah dan pembulu limfe appendicular. Posisinya bervariasi. Berdasarkan frekuensi letaknya di belakang caecum . Dibawah caecum atau menggantung ke dalam pelvis, didepan atau belakang ujung ileum, di depan caecum.
Appendisitis adalah inflamasi appendiks. Penyebabnya biasanya tidak diketahuhi,tetapi sering mengikuti sumbatan lumen. Pada appenditis akuta, appendiks menjadi merah dan membengkak, dapat berlanjut menjadi ganggrenosa, atau dapat berulserasi dan menyebabkan perionitis atau absen appendiks.
Colon ascendens
Colon ascendens membentang dari caecum pada fossa iliaca dextra ke sisi kanan abdomen sampai flexura colica dextra di bawah lobus hepatis dextrer.
Colon transversum
panjangnya sekitar 38 cm, berjalan dari flexura coli dextra sampai flexura coli sinistra. Bagian kanan mempunyai hubungan dengan duodenum dan pankreas di sebelah dorsal, sedangkan bagian kiri lebih bebas. Flexura coli sinistra letaknya lebih tinggi daripada yang kanan yaitu pada polus cranialis ren sinistra, juga lebih tajam sudutnya dan kurang mobile. Flexura coli dextra erat hubunganya dengan facies visceralis hepar (lobus dextra bagian caudal) yang terletak di sebelah ventralnya. Arterialisasi didapat dari cabang cabang arteri colica media. Arterialisasi colon transversum didapat dari arteri colica media yang berasal dari arteri mesenterica superior pada 2/3 proksimal ,sedangkan 1/3 distal dari colon transversum mendapat arterialisasi dari arteri colica sinistra yang berasal dari arteri mesenterica inferior. Mesokolon transversum adalah duplikatur peritoneum yang memfiksasi colon transversum sehingga letak alat ini intraperitoneal. Pangkal mesokolon transversa disebut radix mesokolon transversa, yang berjalan dari flexura coli sinistra sampai flexura coli dextra. Lapisan cranial mesokolon transversa ini melekat pada omentum majus dan disebut ligamentum gastro (meso) colica, sedangkan lapisan caudal melekat pada pankreas dan duodenum, didalamnya berisi pembuluh darah, limfa dan syaraf. Karena panjang dari mesokolon transversum inilah yang menyebabkan letak dari colon transversum sangat bervariasi, dan kadangkala mencapai pelvis.
Colon descendens
 Panjangnya sekitar 25 cm, dimulai dari flexura coli sinistra sampai fossa iliaca sinistra dimana dimulai colon sigmoideum. Terletak retroperitoneal karena hanya dinding ventral saja yang diliputi peritoneum, terletak pada muskulus quadratus lumborum dan erat hubungannya dengan ren sinistra. Arterialisasi didapat dari cabang-cabang arteri colica sinistra dan cabang arteri sigmoid yang merupakan cabang dari arteri mesenterica inferior.
Colon sigmoideum
Mempunyai mesosigmoideum sehingga letaknya intraperitoneal, dan terletak didalam fossa iliaca sinistra. Radix mesosigmoid mempunyai perlekatan yang variabel pada fossa iliaca sinistra. Colon sigmoid membentuk lipatan-lipatan yang tergantung isinya didalam lumen, bila terisi penuh dapat memanjang dan masuk ke dalam cavum pelvis melalui aditus pelvis, bila kosong lebih pendek dan lipatannya ke arah ventral dan ke kanan dan akhirnya ke dorsal lagi. Colon sigmoid melanjutkan diri kedalam rectum pada dinding mediodorsal pada aditus pelvis di sebelah depan os sacrum. Arterialisasi didapat dari cabang- cabang arteri sigmoidae dan arteri haemorrhoidalis superior cabang arteri mesenterica inferior. Aliran vena yang terpenting adalah adanya anastomosis antara vena haemorrhoidalis superior dengan vena haemorrhoidalis medius dan inferior, dari ketiga vena ini yang bermuara kedalam vena porta melalui vena mesenterica inferior hanya vena haemorrhoidalis superior, sedangkan yang lain menuju vena iliaca interna. Jadi terdapat hubungan antara vena parietal (vena iliaca interna) dan vena visceral (vena porta) yang penting bila terjadi pembendungan pada aliran vena porta misalnya pada penyakit hepar sehingga mengganggu aliran darah portal. Mesosigmoideum mempunyai radix yang berbentuk huruf V dan ujungnya letaknya terbalik pada ureter kiri dan percabangan arteri iliaca communis sinistra menjadi cabang-cabangnya, dan diantara kaki-kaki huruf V ini terdapat reccessus intersigmoideus.Vaskularisasi kolon dipelihara oleh cabang-cabang arteri mesenterica superior dan arteri mesenterica inferior, membentuk marginal arteri seperti periarcaden, yang memberi cabang-cabang vasa recta pada dinding usus. Yang membentuk marginal arteri adalah arteri ileocolica, arteri colica dextra, arteri colica media, arteri colica sinistra dan arteri sigmoidae. Hanya arteri ciloca sinistra dan arteri sigmoideum yang merupakan cabang dari arteri mesenterica inferior, sedangkan yang lain dari arteri mesenterica superior. Pada umumnya pembuluh darah berjalan retroperitoneal kecuali arteri colica media dan arteri sigmoidae yang terdapat didalam mesocolon transversum dan mesosigmoid. Seringkali arteri colica dextra membentuk pangkal yang sama dengan arteri colica media atau dengan arteri ileocolica. Pembuluh darah vena mengikuti pembuluh darah arteri untuk menuju ke vena mesenterica superior dan arteri mesenterica inferior yang bermuara ke dalam vena porta. Aliran limfe mengalir menuju ke Lnn. ileocolica, Lnn. colica dextra, Lnn. colica media, Lnn. colica sinistra dan Lnn. mesenterica inferior. Kemudian mengikuti pembuluh darah menuju truncus intestinalis
·                     Definisi Cancer Colon
1.                  Kanker   kolon   adalah  suatu   bentuk   keganasan   dari  masa abnormal/neoplasma   yang   muncul   dari   jaringan   epithelial   dari colon (Brooker, 2001 )
2.                  Kanker   kolon/usus   besar   adalah  tumbuhnya   sel   kanker yang ganas di dalam  permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman, 2000 )
3.                  Kanker kolon adalah pertumbuhan sel  yang bersifat ganas yang tumbuh   pada   kolon   dan   menginvasi   jaringan   sekitarnya (Tambayong, 2000 )
4.                  Kesimpulan : Bahwa   kanker   kolon   adalah   suatu   pertumbuhan   tumor yang bersifat ganas dan merusak sel DNA dan jaringan sehat disekitar kolon (usus besar).
·                     Etiologi Cancer Colon
Penyebab dari pada kanker Colon tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada usus besar (Aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society, The National Cancer Institute, dan organisasi kanker lainnya.Makanan-makanan yang pasti di jurigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar ( Tabel 56-1 ). Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut,yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan ( e.g Mormons,seventh Day Adventists ).
Makanan yang harus dihindari :
-          Daging merah
-          Lemak hewan
-          Makanan berlemak
-          Daging dan ikan goreng atau panggang
-          Karbohidrat yang disaring(example:sari yang disaring)
Makanan yang harus dikonsumsi:
-          Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis ( seperti brokoli,brussels sprouts )
-          Butir padi yang utuh
-          Cairan yang cukup terutama air
Karena sebagian besar tumor Colon menghasilkan adenoma,faktor utama yang membahayakan terhadap kanker Colon menyebabkan adenoma. Ada tiga type adenoma Colon : tubular,villous dan tubulo villous ( akan di bahas pada polips ).Meskipun hampir besar kanker Colon berasal dari adenoma,hanya 5% dari semua adenoma Colon menjadi manigna,villous adenoma mempunyai potensial tinggi untuk menjadi manigna.
Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak diketahui poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom dominan. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum.Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis mendekati 100 % dari orang yang berusia 20 – 30 tahun.
Orang-orang yang telah mempunyai ucerative colitis atau penyakit Crohn’s juga mempunyai resiko terhadap kanker Colon. Penambahan resiko pada permulaan usia muda dan  tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Resiko dari kanker Colon akan menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut
·                     Tanda dan Gejala Cancer Colon
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Adanya perubahan dalam defekasi, darah pada feses, konstipasi, perubahan dalam penampilan feses, tenesmus, anemia dan perdarahan rectal merupakan keluhan yang umum terjadi.
1. Kanker kolon kanan, dimana isi kolon berupa caiaran, cenderung tetap tersamar hingga stadium lanjut. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi, karena lumen usus lebih besar dan feses masih encer. Anemia akibat perdarahan sering terjadi, dan darah bersifat samara dan hanya dapat dideteksi dengan tes Guaiak (suatu tes sederhana yang dapat dilakukan di klinik). Mucus jarang terlihat, karena tercampur dalam feses. Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin dapat teraba, tetapi jarang pada stadium awal. Penderita mungkin mengalami perasaan tidak enak pada abdomen, dan kadang – kadang pada epigastrium.
2. Kanker kolon kiri dan rectum cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks. Diare, nyeri kejang, dan kembung sering terjadi. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan obstruksi. Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita. Baik mucus maupun darah segar sering terlihat pada feses. Dapat terjadi anemia akibat kehilangan darah kronik. Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenai radiks saraf, pembuluh limfe atau vena, menimbulkan gejala – gejala pada tungakai atau perineum. Hemoroid, nyeri pinggang bagian bawah, keinginan defekasi atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat – alat tersebut. Gejala yang mungkin dapat timbul pada lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah (Gale, 2000).

Manifestasi klinis kanker kolon secara umum, adalah sebagai berikut :
  1. Lelah, sesak napas waktu bekerja, dan kepala terasa pening.
  2. Pendarahan pada rektum, rasa kenyang bersifat sementara, atau kram lambung serta adanya tekanan pada rektum.
  3. Adanya darah dalam tinja, seperti terjadi pada penderita pendarahan lambung, polip usus, atau wasir.
  4. Pucat, sakit pada umumnya, malnutrisi, lemah, kurus, terjadi cairan di dalam rongga perut, pembesaran hati, serta pelebaran saluran limpa.
Tabel Perbedaan manifestasi klinis dari kolon kanan dan kolon kiri
Kolon kanan
Kolon kiri
Pasokan darah: a. mesenterika superior, v. mesenterika superior.
Balikan vena: vena portaàhati kanan
Pasokan darah: a. mesenterika inferior, v. mesenterika inferior
Balikan vena: v. lienalisàvena portaàhati kiri
Besar
Kecil
Cair seperti bubur
Berbentuk kering, padat
Terutama absorbsi air, elektrolit
Storasi feses, defekasi
Umumnya berbentuk benjolan, sering ulserasi luas, berdarah, infeksi
Umumnya tipe infiltrative, mudah ileus
Massa abdominal, sistemik, perut kembung, nyeri samar dan gejala tak khas
Ileus, hematokezia, iritasi usus

Baughman,D.C& Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
1.      Perubahan kebiasaan defekasi ( merupakan gejala yg paling sring terjadi di tunjukkan), keluar darah bersama dengan fese (gejala kedua yg sering muncul)
2.      Anemia yg penyebabnya tidak jelaas, anoreksia, penurunan BB, keletihan
3.      Lesi sebelah kanan : nyeri abdominal tumpul dan melena
4.      Lesi sebelah kiri : nyeri abdominal dank ram, feses mengecil, kontipasi
·                     Patofisiologi
(  Terlampir )

·                     Komplikasi
Terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi tumor atau melelui penyebaran metastase yang termasuk :
1. Perforasi usus besar yang disebabkan peritonitis
2. Pembentukan abses
3. Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina
·                     Pemeriksaan Penunjang
1.            Endoskopi.
Pemeriksaan endoskopi perlu dikerjakan, baik sigmoidoskopi maupun  kolonoskopi. Gambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan dapat dilihat dengan jelas pada endoskopi, dan untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi.
2.            Radiologi.
 Pemeriksaan radiologi yang dapat dikerjakan antara lain adalah : foto dada dan foto kolon (barium enema).
Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan  mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium secara umum dilakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy.
Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan luas dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis.
Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker pada paru juga bisa digunakan untuk persiapan tindakan pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu filling defect pada suatu tempat atau suatu striktura.
3.            Ultrasonografi (USG).
Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi ada tidaknya metastasis kanker kelenjar getah bening di abdomen dan di hati.
4.            Histopatologi
Selain melakukan endoskopi sebaiknya dilakukan biopsi di beberapa tempat untuk pemeriksaan histopatologis guna menegakkan diagnosis. Gambaran histopatologi karsinoma kolorektal ialah adenokarsinoma, dan perlu ditentukan differensiasi sel.
5.            Laboratorium.
Tidak ada petanda yang khas untuk karsinoma kolorektal, walaupun demikian setiap pasien yang mengalami perdarahan perlu diperiksa Hb. Tumor marker (petanda tumor) yang biasa dipakai adalah CEA. Kadar CEA lebih dari 5 mg/ ml biasanya ditemukan karsinoma kolorektal yang sudah lanjut. Berdasarkan penelitian, CEA tidak bisa digunakan untuk mendeteksi secara dini karsinoma kolorektal, sebab ditemukan titer lebih dari 5 mg/ml hanya pada sepertiga kasus stadium III. Pasien dengan buang air besar lendir berdarah, perlu diperiksa tinjanya secara bakteriologis terhadap shigella dan juga amoeba.
6.            Scan (misalnya, MR1. CZ: gallium) dan ultrasound:
Dilakukan untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik, dan evaluasi respons pada pengobatan.
7.            Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum):
 Dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sum-sum tulang, kulit, organ dan sebagainya.
8.            Jumlah darah lengkap dengan diferensial dan trombosit:
 Dapat menunjukkan anemia, perubahan pada sel darah merah dan sel darah putih: trombosit meningkat atau berkurang.
9.            Sinar X dada:
Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.
·                     Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda Ca Colon tergantung pada letak tumor.Tanda-tanda yang biasanya terjadi adalah  :
·         Perdarahan pada rektal
·         Anemia
·         Perubahan feces
Kemungkinan darah ditunjukan sangat kecil atau lebih hidup seperti mahoni atau bright-red stooks.Darah kotor biasanya tidak ditemukan tumor pada sebelah kanan kolon tetapi biasanya (tetapi bisa tidak banyak) tumor disebelah kiri kolon dan rektum.
Hal pertama yang ditunjukkan oleh Ca Colon adalah :
·         teraba massa
·         pembuntuan kolon sebagian atau seluruhnya
·         perforasi pada karakteristik kolon dengan distensi abdominal dan nyeri ini ditemukan pada indikasi penyakit Cachexia.

·                     Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan pembedahan merupakan tindakan primer pada kira – kira 75 % pasien dengan kanker kolorektal. Pembedahan dapat bersifat kuratif atau palliative. Kanker yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi, suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam membuat keputusan di kolon ; massa tumor kemudian dieksisi. Reseksi usus diindikasikan untuk kebanyakan lesi. Tujuan pembedahan dalam situasi ini adalah palliative. Apabila tumor telah menyebar dan mencakup struktur vital sekitarnya, maka operasi tidak dapat dilakukan.
Terapi radiasi merupakan penanganan kanker dengan menggunakan x-ray berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. Terdapat dua cara pemberian terapi radiasi, yaitu dengan eksternal radiasi dan internal radiasi. Pemilihan cara radiasi diberikan tergantung  pada tipe dan stadium dari kanker.
External radiasi (external beam therapy) merupakan penanganan dimana radiasi tingkat tinggi secara tepat diarahkan pada sel kanker. Sejak radiasi digunakan untuk membunuh sel kanker, maka dibutuhkan pelindung khusus untuk melindungi jaringan yang sehat disekitarnya. Terapi radiasi tidak menyakitkan dan pemberian radiasi hanya berlangsung beberapa menit.
Internal radiasi (brachytherapy, implant radiation) menggunakan radiasi yang diberikan ke dalam tubuh sedekat mungkin pada sel kanker. Substansi yang menghasilkan radiasi disebut radioisotop, bisa dimasukkan dengan cara oral, parenteral atau implant langsung pada tumor. Internal radiasi memberikan tingkat radiasi yang lebih tinggi dengan waktu yang relatif singkat bila dibandingkan dengan eksternal radiasi, dan beberapa penanganan internal radiasi secara sementara menetap didalam tubuh.
1.      Kemoterapi
Kanker kolon telah banyak resisten pada hampir sebagian besar agen kemoterapi. Bagaimanapun juga kemoterapi yang diikuti dengan ekstirpasi dari tumor secara teoritis seharusnya dapat menambah efektifitas dari agen kemoterapi. Kemoterapi sangat efektif digunakan ketika kehadiran tumor sangat sedikit dan fraksi dari sel maligna yang berada pada fase pertumbuhan banyak.
2.      Pembedahan
Tindakan ini dibagi menjadi Curative, Palliative, Bypass, Fecal diversion, dan Open-and-close. Bedah Curative dikerjakan apabila tumor ditemukan pada daerah yang terlokalisir. Intinya adalah membuang bagian yang terkena tumor dan sekelilingnya. Pada keadaan ini mungkin diperlukan suatu tindakan yang disebut TME (Total Mesorectal Excision), yaitu suatu tindakan yang membuang usus dalam jumlah yang signifikan. Akibatnya kedua ujung usus yang tersisa harus dijahit kembali. Biasanya pada keadaan ini diperlukan suatu kantong kolostomi, sehingga kotoran yang melalui usus besar dapat dibuang melalui jalur lain. Pilihan ini bukanlah suatu pilihan yang enak akan tetapi merupakan langkah yang diperlukan untuk tetap hidup, mengingat pasien tidak mungkin tidak makan sehingga usus juga tidak mungkin tidak terisi makanan / kotoran; sementara ada bagian yang sedang memerlukan penyembuhan. Apa dan bagaimana kelanjutan dari kolostomi ini adalah kondisional dan individual, tiap pasien memiliki keadaan yang berbeda-beda sehingga penanganannya tidak sama.
Bedah paliatif dikerjakan pada kasus terjadi penyebaran tumor yang banyak, dengan tujuan membuang tumor primernya untuk menghindari kematian penderita akibat ulah tumor primer tersebut. Terkadang tindakan ini ditunjang kemoterapi dapat menyelamatkan jiwa. Bila penyebaran tumor mengenai organ-organ vital maka pembedahan pun secara teknis menjadi sulit, sehingga dokter mungkin memilih teknik bedah bypass atau fecal diversion (pengalihan tinja) melalui lubang. Pilihan terakhir pada kondisi terburuk adalah  open-and-close, di mana dokter membuka daerah operasinya, kemudian secara de facto melihat keadaan sudah sedemikian rupa sehingga tidak mungkin dilakukan apa-apa lagi atau tindakan yang akan dilakukan tidak memberikan manfaat bagi keadaan pasien, kemudian di tutup kembali.
Tindakan ini sepertinya sudah tidak pernah dilakukan lagi mengingat sekarang sudah banyak tersedia laparoskopi dan radiografi canggih untuk mendeteksi keberadaan dan kondisi kanker jauh sebelum diperlukan operasi.
3.      Terapi Non Bedah
 Imunoterapi sedang dikembangkan sebagai terapi tambahan untuk kanker kolorektal. Terapi lain yang telah diujicoba dan memberikan hasil yang sangat menjanjikan adalah terapi Vaksin. Ditemukan pada November 2006 lalu sebuah vaksin bermerek TroVax yang terbukti secara efektif mengatasi berbagai macam kanker. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan sistem imun penderita untuk melawan penyakitnya. Fase ujicobanya saat ini sedang ditujukan bagi kanker ginjal dan direncanakan untuk kanker kolon. Terapi lainnya adalah pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi metastasisnya (penyebaran tumornya).
Terapi non bedah di atas, yang juga tak kalah pentingnya adalah Terapi Suportif. Diagnosis kanker sangat sering menimbulkan pengaruh yang sangat besar pada kejiwaan penderitanya. Karenanya dorongan dari rumah sakit, dokter, suami/istri, kerabat, keluarga, social support group sangat penting bagi penderitanya.
Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan komplikasi yang berhubungan. Endoskopi, ultrasonografi dan laparoskopi telah terbukti berhasil dalam pentahapan kanker kolorektal pada periode praoperatif. Metode pentahapan yang dapat digunakan secara luas adalah klasifikasi Duke:
a.       Kelas A – tumor dibatasi pada mukosa dan sub mukosa
b.      Kelas B – penetrasi melalui dinding usus
c.       Kelas C – Invasi ke dalam sistem limfe yang mengalir regional
d.      Kelas D – metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas
Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah. Pilihan mencakup kemoterapi, terapi radiasi atau imunoterapi.  Terapi ajufan standar yang diberikan untuk pasien dengan kanker kolon kelas C adalah program 5-FU/ Levamesole. Pasien dengan kanker rektal Kelas B dan C diberikan 5-FU dan metil CCNU dan dosis tinggi radiasi pelvis.
Terapi radiasi sekarang digunakan pada periode praoperatif, intraoperatif dan pascaoperatif untuk memperkecil tumor, mencapai hasil yang lebih baik dari pembedahan, dan untuk mengurangi resiko kekambuhan. Untuk tumor yang tidak dioperasi atau tidak dapat disekresi, radiasi digunakan untuk menghilangkan gejala secara bermakna. Alat radiasi intrakavitas yang dapat diimplantasikan dapat digunakan.  Data paling baru menunjukkan adanya pelambatan periode kekambuhan tumor dan peningkatan waktu bertahan hidup untuk pasien yang mendapat beberapa bentuk terapi ajufan.

·          Pencegahan
1.                  Memperbanyak konsumsi makanan berserat dan sebisa mungkin mengurangi / menghindari makanan yang mengandung kadar lemak tinggi. Tujuannya untuk memperlancar buang air besar dan menurunkan derajat keasaman, konsentrasi asam lemak, asam empedu, dan zat besi dalam usus besar.
2.                  Mengkonsumsi buah-buahan dan sayur setiap hari (terutama sayur yang termasuk dalam keluarga kubis).
3.                  Mengkonsumsi asam lemak omega-3, yang banyak terdapat dalam ikan tertentu.
4.                  Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung folat, kalsium, vitamin A, C, D, E, dan betakarotin.
5.                  Minum susu yang mengandung Lactobacillus acidophilus.
6.                  Berolahraga secara teratur
Olah raga / aktivitas fisik yang banyak dan memadai akan memperbaiki sistem metabolisme tubuh. Hal ini akan menyebabkan seseorang lebih mudah dan teratur untuk buang air besar.
7.              Hidup rileks dan menghindari hal-hal yang bisa mendatangkan stres.
8.              Pertahankan indeks massa tubuh (IMT) antara 18,5 – 25,0 kg/m2, jangan sampai mengalami obesitas.
9.               Tidak merokok.
10.          Tidak mengkonsumsi alkohol.
11.          Banyak minum air putih.
12.          Menghindari makanan yang mengandung bahan pewarna dan pengawet.
13.          Mengurangi konsumsi makanan yang diasap, dibakar, dan diawetkan.
14.          Bagi yang berusia 50 tahun sebaiknya rajin melakukan skrining kanker usus melalui terpong usus (Kolonoskopi) sebagai bagian dari periodic check up.
15.          Segera lakukan kolonoskopi dan polipektomi saat ditemukan adanya polip di usus besar.
16.          Setelah menjalani polipektomi adenoma, disarankan adanya pemberian suplemen kalsium.
17.          Disarankan pula suplementasi vitamin E dan D.
18.          Lakukan deteksi dini dengan tes darah samar sejak usia 40 tahun.



ASUHAN KEPERAWATAN CANCER COLON
Kasus
Tn. B (40 tahun) dirawat sudah hari ke-2 dengan  keluhan : sudah 1 bulan ini BAB nya selalu berlendir dan darah, dan 1 minggu terakhir ini BAB nya darah segar dan sering juga mengalami obstipasi, kadang juga mengalami distensi abdomen sudah 1 bulan ini BB klien turun 20% (BB awal 70 kg) tidak nafsu makan dan juga nyeri sedang BAB atau tenesmus. Saat pemeriksaan fisik di dapat data : KU lemah, hasil pemeriksaan TTV , TD : 110/60 mmHg ;  Nadi : 72x/menit ; Suhu : 37,4oC ; RR : 20x/menit , Conjungtiva anemeis, distensi abdomen, nyeri tekan di abdomen. Hasil colonoscopy : berbentuk sirkuler dan anuler dan penyempitan lumen usus dan striktura menonjol dan mengisi.
1.    PENGKAJIAN
1)      Data Pasien :
Nama                                         : Tn. B
Tempat, Tanggal Lahir               : Jakarta, 23 Februari 1973
Umur                                          : 40 tahun
Jenis kelamin                              : Laki-laki
Agama                                       : Islam
Suku                                           : Jawa
Pekerjaan                                   : Karyawan
Status perkawinan                     : Menikah
Status pendidikan                      : SLTA
Diagnosa medis                         : Ca Colon

2)      Riwayat penyakit :
Keluhan Utama :
Klien datang ke Rumah Sakit hari Senin, 16 April 2013 dengan keluhan sudah 1 bulan ini BAB nya selalu berlendir dan darah, dan 1 minggu terakhir ini BAB nya darah segar dan sering juga mengalami obstipasi, kadang juga mengalami distensi abdomen sudah 1 bulan ini BB klien turun 20% (BB awal 70 kg) tidak nafsu makan dan juga nyeri sedang BAB atau tenesmus


Riwayat Penyakit Sekarang :
KU lemah, hasil pemeriksaan TTV , TD : 110/60 mmHg ;  N adi : 72x/menit ; Suhu : 37,4oC ; RR : 20x/menit , Conjungtiva anemeis, distensi abdomen, nyeri tekan di abdomen. Hasil colonoscopy : berbentuk sirkuler dan anuler dan penyempitan lumen usus dan striktura menonjol dan mengisi.

Riwayat Penyakit Dahulu :
Klien tidak mempunyai riwayat penyakit atau riwayat masuk rumah sakit

Riwayat Kesehatan Keluarga :
Keluarga klien tidak ada yang mempunyai penyakit yang berhubungan dengan sistem pencernaan

3)      Pemeriksaan fisik
Pengkajian pasien Post Operatif Ca Colon (Doenges, 1999) adalah meliputi :
a.       Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
b.      Integritas Ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
c.       Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
d.      Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
e.       Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker /terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
f.       Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).


2.      DATA FOKUS
DATA SUBJEKTIF
DATA OBJEKTIF
1.        Klien mengeluh sudah 1 bulan ini BAB nya selalu berlendir dan darah
2.        Klien mengeluh sudah 1 minggu terakhir ini BAB nya darah segar dan sering juga mengalami obstipasi
3.        Klien mengatakan kadang juga mengalami distensi abdomen
4.        Klien mengatakan sudah 1 bulan ini BB klien turun 20% (BB awal 70 kg)
5.        Klien mengeluh tidak nafsu makan
6.        Klien mengeluh juga nyeri sedang BAB atau tenesmus
1.      Tanda-tanda vital :
TD : 110/60 mmHg
HR : 72x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 37,4oC
2.        Keadaan Umum klien : lemah
3.        Skala nyeri : 6
4.        Klien terlihat conjungtiva anemeis,
5.        Klien teraba distensi abdomen dan nyeri tekan di abdomen.
6.        Hasil colonoscopy : berbentuk sirkuler dan anuler dan penyempitan lumen usus dan striktura menonjol dan mengisi.
7.        Klien terlihat cemas dan takut
8.        Klien terlihat apatis
9.        Klien terlihat tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan / peka rangsang

3.    ANALISA DATA
DATA
PROBLEM
ETIOLOGI
DS :
·      Klien mengeluh sudah 1 bulan ini BAB nya selalu berlendir dan darah (1 hari n
·      Klien mengeluh sudah 1 minggu terakhir ini BAB nya darah segar dan sering juga mengalami obstipasi
DO:
·      Tanda-tanda vital :
TD : 110/60 mmHg
HR : 72x/menit
·      Keadaan Umum : lemah
·      Klien terlihat conjungtiva anemis
Perdarahan
Obstruksi karena polip membesar
DS :
·      Klien mengatakan kadang juga mengalami sakit perut dan kembung
·      Klien mengatakan sudah 1 bulan ini BB klien turun
·      Klien mengeluh tidak nafsu makan
DO:
·      Keadaan Umum : lemah
·      BB : 70 kg , turun 20% menjadi 56 kg
·      Klien terlihat conjungtiva anemis
·      Klien teraba distensi abdomen dan nyeri tekan di abdomen.
·      Klien teraba palpasi dalam
·      Hasil colonoscopy : berbentuk sirkuler dan anuler dan penyempitan lumen usus dan striktura menonjol dan mengisi.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
Fungsi absorbsi dan reabsorbsi terganggu
DS :
·      Klien mengeluh sudah 1 bulan ini BAB nya selalu berlendir dan darah
·      Klien mengeluh sudah 1 minggu terakhir ini BAB nya darah segar dan sering juga mengalami obstipasi
·      Klien mengatakan kadang juga mengalami distensi abdomen
·      Klien mengeluh juga nyeri sedang BAB atau tenesmus
DO:
·      Tanda-tanda vital :
TD : 110/60 mmHg
HR : 72x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 37,4oC
·      Keadaan Umum : lemah
·      Klien terlihat conjungtiva anemis
·      Klien teraba distensi abdomen dan nyeri tekan di abdomen.
Hasil colonoscopy : berbentuk sirkuler dan anuler dan penyempitan lumen usus dan striktura menonjol dan mengisi.
Pola eliminasi
Penurunan asupan cairan dan serat, kelemahan otot abdomen sekunder akibat mekanisme kanker kolon.
DS :
·      Klien mengeluh juga nyeri sedang BAB atau tenesmus
·      Klien mengatakan kadang juga mengalami distensi abdomen
DO:
·      Tanda-tanda vital :
TD : 110/60 mmHg
HR : 72x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 37,4oC
·      Keadaan Umum : lemah
·      Skala nyeri : 6 dari 10
·      Klien terlihat conjungtiva anemis
·      Klien teraba distensi abdomen dan nyeri tekan di abdomen serta palpasi dalam
·      Hasil colonoscopy : berbentuk sirkuler dan anuler dan penyempitan lumen usus dan striktura menonjol dan mengisi.
·      Klien terlihat cemas dan takut
·      Klien terlihat apatis
·      Klien terlihat tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan / peka rangsang
Gangguan rasa aman dan nyaman : Nyeri
Penekanan karena massa CA/tumor

4.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TANGGAL DITEMUKAN
TANGGAL TERATASI
1.      Perdarahan b.d Proses perjalanan penyakit, gangguan fungsi gastrointestinal

2.      Gangguan rasa aman dan nyaman : Nyeri b.d Kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi

3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penurunan intake nutrisi ke dalam tubuh

4.      Konstipasi b.d Hipertensi portal dan gangguan faktor pembekuan darah

17 04 2013





17 04 2013





17 04 2013






17 04 2013



20 04 2013





20 04 2013





20 04 2013






20 04 2013




5.      INTERVENSI
NO DX
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
INTERVENSI
1








Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan masalah keperawatan perdarahan dapat berkurang dengan kriteria hasil :
1.      Sirkulasi

 Mandiri :
1.      Observasi keadaan umum
2.      Kaji ulang sirkulasi
3.      Cek capilarry reffil
4.      Ukur tekanan darah & nadi
Kolaborasi :
1.      Pemberian Transfusi darah (pasma/paket blood cell)
2.      Pemeriksaan HB dengan laboratorium
2
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan masalah keperawatan gangguan rasa aman dan nyaman; Nyeri dapat berkurang dengan criteria hasil :
1.      Mengungkapkan nyeri berkurang secara bertahap (skala nyeri menjadi 3 dari 10)
2.      P : Nyeri berkurang saat terlentang
Q : Nyeri tumpul
R : Nyeri tidak menjalar
S : skala nyeri sedang 6 dari 10
T ; nyeri kadang-kadang
3.      Dapat melakukan tekhnik relaksasi nafas dalam
4.      Melaporkan nyeri berkurang, tampak rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat
Mandiri :
1.      Kaji ulang skala nyeri pasien
2.      Ajarkan tekhnik relaksasi nafas dalam
3.      Ciptakan lingkungan yang nyaman : tenang,suhu ruangan
4.      Izinkan pasien untuk memulai posisi yang
nyaman, mis lutut fleksi
Rasional : Menurukan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa control

5.      Berikan tindakan yang nyaman ( pijatan
punggung, ubah posisi) & aktivitas senggang
Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan menigkatkan kemampuan koping

6.      Dorong penggunaan tekhnik relaksasi, mis,bimbingan imajinasi, visualisasi.
Rasional : Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan kembali perhatian, sehingga menurunakan nyeri dan ketidak nyamanan

Kolaborasi
1.      Berikan obat sesuai indikasi, mis, analgesik
Rasional : Menurunkan atau membantu dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kenyamanan

3
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nutrisi pasien dapat terpenuhi dengan criteria hasil :
1.      Porsi makan habis ½-1 porsi
2.      Berat badan meningkat 200-300 gram
3.      Keadaan umum = segar
4.      Hb meningkat 14-16
5.      Berpartisipasi dalam intervensi spesifik
6.      Menunjukkan peningkatan berat badan secara bertahap
7.      Tidak menunjukkan gejala mual dan muntah.
8.      Klien melaporkan selera makannya meningkat
Mandiri :
1.      Pertahankan tirah baring selama fase akut/pasca terapi
Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi

2.      Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).
Rasional : Meningkatkan kenyamanan dan selera makan

3.      Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa)
Rasional : Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme klien keganasan

Kolaborasi :
1.      Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia).
Rasional : Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karena malbasorbsi

2.      Bila perlu, kolaborasi pemberian nutrisi parenteral.
Rasional : Pemberian peroral mungkin dihentikan sementara untuk mengistirahatkan saluran cerna
4
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan masalah keperawatan konstipasi dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1.     Mengungkapkan pemahaman tentang faktor dan intervensi/solusi yang tepat berkenaan dengan situasi individu,
2.     BAB dalam batas normal 1-2x/hari,
3.     Menghindari makanan yang dilarang misalnya tinggi lemak, tinggi protein dan rendah serat

Mandiri
1.      Pastikan kebiasaan defekasi pasien dan gaya hidup sebelunya
Rasional : Membantu dalam jadwal irigasi efektif untuk pasien dengan kolostomi

2.      Observasi gerakan usus, warna, konsistensi, dan jumlah
Rasional : Indikator kembalinya fungsi GI, mengidentifikasi ketepatan intervensi

3.      Berikan pelunak feses, supositoria gliserin
sesuai indikasi
Rasional : Mungkin perlu untuk merangsang peristaltik dengan perlahan/evakuasi feses

 


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Kanker   kolon   adalah  suatu   bentuk   keganasan   dari  masa abnormal/neoplasma   yang   muncul   dari   jaringan   epithelial   dari colon (Brooker, 2001 )
Kanker   kolon/usus   besar   adalah  tumbuhnya   sel   kanker yang ganas di dalam  permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman, 2000 )
Kanker kolon adalah pertumbuhan sel  yang bersifat ganas yang tumbuh   pada   kolon   dan  
menginvasi   jaringan   sekitarnya (Tambayong, 2000 )



Journal Colon Cancer Survival Rates With the New American Joint Committee on Cancer Sixth Edition Staging
ANGKA KELANGSUNGAN HIDUP DENGAN KANKER KOLON BERSAMA KOMITE NEW AMERICAN KANKER EDISI KEKENAM SISTEM STADIUM
Jessica B.O’connell, Melinda A. Maggarad dan Clifford Y. Ko
Department of surgery, David Geffen School of Medicine at University of California, Los Angels. Department of Surgery, West Los Angels Veteran Affairs Hospital, Los Angels
Background: The recently revised American Joint Committee on Cancer (AJCC) sixth edition cancer staging system increased the stratification within colon cancer stages II and III defined by the AJCC fifth edition system. Using nationally representative Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER) data, we compared survival rates associated with colon cancer stages defined according to both AJCC systems.
Latar Belakang: yang baru direvisi American Komite Bersama Kanker (AJCC) edisi keenam sistem stadium kanker meningkat stratifikasi dalam tahap kanker usus II dan III ditentukan oleh sistem edisi kelima AJCC. Menggunakan Surveillance perwakilan nasional, Epidemiologi, dan Hasil Akhir (SIER) data, kami membandingkan tingkat kelangsungan hidup yang terkait dengan tahap kanker usus besar ditetapkan sesuai dengan kedua sistem AJCC.
Methods: Using SEER data (from January 1, 1991, through December 31, 2000), we identified 119 363 patients with colon adenocarcinoma and included all patients in two analyses by stages defined by AJCC fifth and sixth edition systems. Tumors were stratified by SEER’s “extent of disease” and “number of positive [lymph] nodes” coding schemes. Kaplan–Meier analyses were used to compare overall and stage-specific 5-year survival. All statistical tests were two-sided. 
Metode: menggunakan data SIER (dari tanggal 1 Januari 1991 sampai dengan 31 Desember 2000), kami mengidentifikasi 119 363 pasien dengan adenokarsinoma kolon dan termasuk semua pasien dalam dua analisis secara bertahap didefinisikan oleh AJCC kelima dan sistem edisi keenam. Tumor dikelompokkan berdasarkan SIER ini "luasnya penyakit" dan "jumlah positif [bening] node" skema pengkodean. Analisis Kaplan-Meier digunakan untuk membandingkan secara keseluruhan dan tahap-spesifik ketahanan hidup 5 tahun. Semua uji statistik dua sisi.
Results: Overall 5-year survival was 65.2%. According to stages defined by the AJCC fifth edition system, 5-year stage-specific survivals were 93.2% for stage I, 82.5% for stage II, 59.5% for stage III, and 8.1% for stage IV. According to stages defined by the AJCC sixth edition system, 5-year stage-specific survivals were 93.2% for stage I, 84.7% for stage IIa, 72.2% for stage IIb, 83.4% for stage IIIa, 64.1% for stage IIIb, 44.3% for stage IIIc, and 8.1% for stage IV. Under the sixth edition system, 5-year survival was statistically significantly better for patients with stage IIIa colon cancer (83.4%) than for patients with stage IIb disease (72.2%) (P<.001).
Hasil: Secara keseluruhan ketahanan hidup 5 tahun adalah 65,2%. Menurut tahap didefinisikan oleh kelima sistem edisi AJCC, kelangsungan hidup 5 tahun tahap-spesifik adalah 93,2% untuk stadium I, 82,5% untuk stadium II, 59,5% untuk stadium III, dan 8,1% untuk stadium IV. Menurut tahap didefinisikan oleh sistem edisi keenam AJCC, kelangsungan hidup 5 tahun tahap-spesifik adalah 93,2% untuk stadium I, 84,7% untuk stadium IIa, 72,2% untuk stadium IIb, 83,4% untuk stadium IIIa, 64,1% untuk stadium IIIB, 44,3 % untuk stadium IIIC, dan 8,1% untuk stadium IV. Di bawah sistem edisi keenam, kelangsungan hidup 5 tahun secara statistik signifikan lebih baik bagi pasien dengan stadium IIIa kanker usus besar (83,4%) dibandingkan dengan pasien dengan penyakit stadium IIb (72,2%) (P <.001).
Conclusions: The AJCC sixth edition system for colon cancer stratifies survival more distinctly than the fifth edition system by providing more substages. The association of stage IIIa colon cancer with statistically significantly better survival than stage IIb in the new system may reflect current clinical practice, in which stage III patients receive chemotherapy but stage II patients generally do not.

Kesimpulan: Sistem AJCC edisi keenam untuk kanker usus besar stratifies hidup lebih jelas daripada sistem edisi kelima dengan menyediakan lebih substages. Asosiasi kanker usus stadium IIIa dengan kelangsungan hidup statistik signifikan lebih baik daripada IIb tahap dalam sistem baru mungkin mencerminkan praktek klinis saat ini, di mana pasien stadium III menerima kemoterapi tetapi pasien stadium II biasanya tidak.

0 komentar
Free Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Website templateswww.seodesign.usFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver