WELCOME to Carennina Clara Dita Blog - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.bD7JrUCb.dpuf
This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

DIAGONSA KEPERAWATAN KELUARGA


SISTEM KOMUNITAS I: DIAGONSA KEPERAWATAN KELUARGA

KASUS 1

            Suatu keluarga binaan di wilayah kerja puskesmas kelurahan pondok labu terdiri dari kepala keluarga Tn.A, 38 tahun, bekerja sebagai kuli pasar pondok labu dengan penghasilan Rp.300,000/bulan, istri Tn.A  Ny.B 35 tahun mengeluh demam sudah tiga hari, suhu 38,5◦C, TD 120/80 mmHg, HR 100x/menit, badan terasa panas, wajah tampak merah, mukosa mulut/bibir kering, Ny.B mengatakan tidak mengetahui mengenai penyakit demam yang di deritanya. Suami Ny.B mengatakan tidak mengetahui mengenai penyakit terhadapnya, hal ini terlihat dari semua pekerjaan rumah diambil alih oleh suaminya walaupun setelah itu suaminya harus bekerja kembali, selama demam tindakan yang dilakukan Ny.B adalah minum obat warung saja dan kompres dingin. Ny.B sadar bahwa saat ini dirinya sedang sakit tetapi tidak perlu segera di bawa ke puskesmas atau ke dokter arena biasanya akan sembuh sendiri. Jarak rumah dari puskesmas tidak terlalu jauh ± 1 kilometer. Pekerjaan sehari-hari Ny.B untuk menambah penghasilan keluarga dengan mencuci pakaian tetangganya dengan penghasilan perbulan Rp.150.000,- tinggal di kontrakan berukuran 3 x 6 m2 yang bergandengan dengan kontrakan lainnya. Ventilasi dan pencahayaan rumah kurang. Secara umum tetangga Ny.B saling membantu jika salah warga yang sakit/ membutuhkan pertolongan dan hal ini sudah menjadi cirri khas warga pondok labu. Anak 2 orang masing-masing An.D 8tahun, perawakan kurus dan tidak lincah, kebiasaa makan jarang dan terlihat pucat, rambut pirang dan tampak pecah – pecah demikian  juga saat di cabut mudah rontok, turgor kulit jelek. Daya inget An.D juga kurang terlihat dari hasil raport sekolahnya banyak nilai merahnya. BB : 19Kg. Tn.A dan Ny.B tahu bahwa anaknya kurang gizi. Hal ini dikatakan oleh Tn.A dan Ny.B karena anaknya selalu dibawa ke puskesmas untuk berobat agar dapat vitamin dan susu ( satu kotak isi 450 mg ) serta bubur kacang hijau hanya untuk sekali makan. Diagnose dokter puskesmas dikatakan bahwa An.D kurang gizi. Tetangga Ny.B juga sering membantu dengan cara memberi susu ( satu kotak isi 450 mg ). Saat ditanya oleh perawat apakah Ny.B tahu tentang kurang gizi atau tidak ? Ny.B mengatakan bahwa dia tidak mengetahui sepenuhnya tentang kurang gizi dan yang hanya diketahuinya adalah bahwa kurang gizi itu tidak nafsu makan dan jarang makan, serta badanya kurus. Ny.B sadar bahwa ana D saat ini tidak sehat dan perlu segera ditangani sebab kurang gizi yang dialami An.D sudah 2 tahun. Anak kedua Ny.B adalah An.F 3 tahun, kondisi kesehatan An.F saat ini sedang mengalami sakit batuk pilek dua dua hari, tampak sesak afas dengan frekuensi nafas 30 x/menit. Warna sputum hijau dengan konsistensi kental. Waktu perawat datang kerumah Ny.B dan dilakukan pemeriksaan fisik pada An.F terdapat hasil ronchi positif, tampak mengguakan otot bantu pernafasan seperti muskulus sterno cledo mastedious dan muskulus trapezeus. Diagnose sementara anak F adalah ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut ). Ny.F mengatakan belum memberikan obat apapun pada An.F selama An.F batuk pilek, demikian juga An.F belum pernah dibawa ke dokter atau ke puskesmas. Hail ini dikatakan Ny.B karena kondisi An.F sehat-sehat dan kalaupun saai ini sedang batuk pilek pasti akan sembuh sendiri. Tetangga Ny.B juga sudah menyarankan kepada Ny.B untuk membawa An.F kepuskesmas.

Ny. B
DS:
No
Nama
Data Subjektif dan Objektif
Diagnosa
1.
Ny. B
(35 tahun)
DS:
·         Ny. B mengatakan demam sudah 3 hari
·         Ny. B mengatakan badannya terasa panas
·         Ny. B mengatakan tidak megetahui mengenai penyakit demam yang dideritanya
·         Ny. B mengatakan hanya minum obat warung dan kompres air dingin. Penyakit yang dideritanya akan sembuh sendiri, tidak perlu ke dokter atau puskesmas
·        Ny. B mengatakan bekerja sebagai buruh cuci pakaian dengan gaji Rp 150.000 per bulan
·        Ny. B mengatakan selama ia sakit, semua pekerjaan rumah diambil alih oleh suaminya

DO:
·        Suhu 38,50 C
·        TD 120/80 mmHg
·        HR 100 x/menit
·        Wajah tampak merah
·        Mukosa mulut dan bibir kering
Kenaikan suhu tubuh (hipertermi) pada keluarga Tn. A khususnya Ny. B (35 tahun) b.d KMK mengenal masalah kesehatan tentang demam
2.
An. D
(8 tahun)
DS:
·         Ny. B mengatakan kebiasaan makan jarang
·         Ny. B mengatakan hasil rapot banyak merahnya
·         Ny. B mengatakan daya ingat anaknya kurang terlihat
·         Ny. B mengatakan An. D selalu dibawa ke puskesmas agar dapat dapat vitamin, susu kotak, bubur kacang hijau
·         Ny. B mengatakan tetangga suka kasih susu kotak 450mg
·         Ny. B mengatakan An. D kurang gizi sudah 2 tahun
·         Tn. A dan Ny. B tahu anaknya kurang gizi

DO:
·         Perawakan kurus & tidak lincah
·         Rambut berwarna pirang & tampak pecah-pecah, saat dicabut mudah rontok
·         Turgor kulit kurang
·         Tn. A dan Ny. B mengetahui kurang gizi, kurang nafsu makan & jarang makan
·         Muka tampak pucat
·         BB: 19 Kg
·         Diagnosa dokter: kurang gizi
Gangguan pemenuhan nutrisi: Kurang dari kebutuhsn pada keluarga Tn. A khususnya An. D (8 tahun) b. d KMK mengenal masalah kesehatan anggota keluarga mengenai kurang gizi
3.
An. F
(3 tahun)
DS:
·         Ny. B mengatakan anaknya sakit batuk pilek sudah 2 hari
·         Ny. B mengatakan An. F belum pernah dibawa ke dokter/puskesmas, penyakitnya akan sembuh sendiri
·         Ny. B mengatakan An. F belum diberi obat apapun
·         Tetangga menyarankan untuk dibawa ke puskesmas

DO:
·         Tampak sesak nafas
·         RR: 30x/menit
·         Warna sputum: hijau, konsisten kental
·         Hail pemfis: ronchi (+)
·         Tampak menggunakan otot bantu pernafasan
·         Ventilasi & pencahayaan rumah kurang
·         Diagnosa sementara: ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut)
Bersihan jalan nafas tidak efektif: Penumpukan secret  pada keluarga Tn. A khususnya An. F (3 tahun) b. d KMK mengambil keputusan untuk menangani penyakit batuk pilek

1 komentar

CONGESTIF HEART FAILURE (CHF)


 CONGESTIF HEART FAILURE (CHF)



CONGESTIF HEART FAILURE
(CHF)

 




CARENNINA CLARA DITA
1110711064




PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2012-2013



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Heart Falure atau Cardiac Failure atau Gagal Jantung, tepat pada waktunya.
            Penulisan makalah ini juga merupakan penugasan dari mata kuliah kardiovaskuler. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dalam pembuatan makalah ini dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dan membantu dalam pembuatan makalah ini, serta rekan-rekan lain yang membantu pembuatan makalah ini.
            Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna memberikan sifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna mengingat penulis masih tahap belajar dan oleh karna itu mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalam penulisan makalah ini.


Jakarta,    Oktober 2013

Penyusun



BAB II
PEMBAHASAN


A.     PENGERTIAN GAGAL JANTUNG
1.       Penyakit Gagal Jantung yang dalam istilah medisnya disebut dengan "Heart Failure atau Cardiac Failure", merupakan suatu keadaan darurat medis dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung seseorang setiap menitnya {curah jantung (cardiac output)} tidak mampu memenuhi kebutuhan normal metabolism tubuh.
2.       Gagal jantung (GJ) adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda dan gejala), ditandai oleh sesak napas dan fatik (saat istirahat atau saat aktivitas) yang
Disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung.
3.       Gagal Jantung (Heart Failure)adalah suatu keadaan yang serius, dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) tidak mampu memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan.
4.       Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelaianan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolism jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian volume diastolic secara abnormal(kapita selekta kedokteran jilid 1, 1999).

B.     ETIOLOGI GAGAL JANTUNG
Penyebab gagal jantung dapat diklasifikasikan dalam enam kategori utama, yaitu:
1.      Kegagalan yang berhubungan dengan abnormalitas miokard, dapat disebabkan oleh hilangnya miosit (infrak miokard, kontraksi yang tidak terokoordinasi (left bundle branch block), kurangnya kontraktilitas (kardiomiopati)).
2.      Kegagalan yang berhubungan dengan overload (hipertensi)
3.      Kegagalan yang berhubungan dengan katup
4.      Kegagalan yang disebabkan abnormalitas ritme kardiak (takikaro)
5.      Kegagalan yang disebabkan anormalitas perikard atau efusi perikard (temponade)
6.      Kelainan kongenital jantung
C.     FAKTOR RESIKO
Faktor risiko juga dapat digolongkan menjadi 2 kategori lain yang berbeda, yakni faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Beberapa faktor risiko yang sering ditemukan antara lain kadar kolesterol darah tinggi, kadar LDL (Low Density Lipoprotein) tinggi, kadar trigliserida tinggi, hipertensi, diabetes, obesitas, aktivitas fisik yang kurang, serta merokok. Semua faktor risiko tadi merupakan faktor risiko yang dapat dikontrol, baik dengan perubahan gaya hidup maupun medikasi. Sedangkan usia tua, jenis kelamin wanita dan riwayat penyakit jantung pada keluarga merupakan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.
1.      Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi :

a. Usia
Laki-laki yang berusia lebih dari 45 tahun dan wanita yang berusia lebih dari 55 tahun, mempunyai risiko lebih besar terkena penyakit jantung. Faktor usia tidak dapat dirubah. Lakukan perubahan pada faktor risiko yang lain.

b. Riwayat dalam keluarga ada yang menderita sakit jantung
Adanya riwayat dalam keluarga yang menderita penyakit jantung, meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.Riwayat dalam keluarga juga tidak dapat dirubah.Namun informasi tersebut sangat penting bagi dokter.Jadi informasikan kepada dokter apabila orang tua anda, kakek/nenek, paman/bibi, atau saudara ada yang menderita penyakit jantung.

c. Penyakit Lain
Penyakit lain seperti diabetes, meningkatkan risiko penyakit jantung. Diskusikan dengan dokter mengenai penanganan diabetes dan penyakit lainnya.Gula darah yang terkontrol baik dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

2. Faktor Resiko yang dapat dirubah

a. Kolesterol
Kolesterol terdiri dari kolesterol baik dan kolesterol jahat.HDL adalah kolesterol baik sedangkan LDL adalah kolesterol jahat. Kolesterol total yang tinggi, LDL tinggi, atau HDL rendah meningkatkan risiko penyakit jantung. Apabila anda belum mengetahui kadar kolesterol anda, lakukan pemeriksaan profil lipid. Profil lipid terdiri dari pemeriksaan kolesterol total, HDL, LDL dan trigliserida.Untuk mengurangi kolesterol, kurangi makanan yang tinggi kolesterol/lemak dan olah raga teratur. Apabila diet dan olah raga kolesterol tetap tinggi maka dokter akan meresepkan obat untuk menurunkan kolesterol.

b. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung.Jika tekanan darah anda tinggi, berolahragalah secara teratur, berhenti merokok, berhenti minum alkohol, dan jaga pola makan sehat. Apabila tekanan darah tidak terkontrol dengan perubahan pola hidup tersebut, dokter akan meresepkan obat antihipertensi (obat penurun tekanan darah)

c. Merokok dan Minum Alkohol
Merokok dan minum alkohol terbukti mempunyai efek yang sangat buruk.Berhentilah minum alkohol.Berhentilah merokok.Dan jangan merokok di dekat/samping orang yang tidak merokok.


d. Gemuk (overweight/obesitas)
Kegemukan membuat jantung dan pembuluh darah kita bekerja ekstra berat. Diet tinggi serat (sayuran, buah-buahan), diet rendah lemak, dan olah raga teratur dapat menurunkan berat badan secara bertahap dan aman. Diskusikan dengan dokter untuk menurunkan berat badan secara aman.

e. Kurang Aktifitas Fisik (Sedentary Lifestyle)
Kurang aktivitas fisik juga berdampak tidak baik bagi kesehatan.Olah ragalah secara teratur untuk mencegah penyakit jantung.Olah raga yang dianjurkan adalah olah raga aerobik, selama 30-60 menit, 3-6 kali dalam seminggu.Olah raga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh.Apabila secara keseluruhan tubuh kita sehat, tidak ada batasan tertentu dalam olah raga. Namun apabila kita mempunyai penyakit tertentu, diskusikan dengan dokter olah raga tipe apa yang dapat ditoleransi tubuh kita dengan baik.
Faktor predisposisi gagal jantung adalah penyakit yang menimbulkan penurunan fungsi ventrikel (seperti penyakit arteri coroner, hipertensi,kardiomiopati,penyakit pembuluh darah,atau penyakit ajntung kongenital)dan keadaan yang membatasi pengisian ventrikel(stenosis mitral, kardiomiopati atau penyakit pericardial).
Faktor pencetus termasuk meningkatnya asupan garam,ketidakpatuhan menjalani pengobatan anti gagl jantung, infark miokard akut(mungkin yang tersembunyi ),serangan hipertensi,aritmia akut,infeksi atau demam,emboli paru,anemia,tirotoksikosis,kehamilan dan endocarditis infektif.
 Selain itu ada pula faktor presipitasi lain yang dapat memicu terjadinya gagal jantung, yaitu :
1.       Kelebihan Na dalam makanan
2.       Kelebihan intake cairan
3.       Tidak patuh minum obat
4.       Iatrogenic  volume overload
5.       Aritmia : flutter, aritmia ventrikel
6.       Obat-obatan: alkohol, antagonis kalsium, beta bloker
7.       Sepsis, hiper/hipotiroid, anemia, gagal ginjal, defisiensi vitamin B, emboli    paru.

D.     PATOFISIOLOGI

Jantung dapat dipandang sebagai pompa dengan curah yang sebanding dengan volume pengisiannya dan berbanding terbalik dengan tahan yang melawan pompanya. Ketika volume akhir-diastolik ventrikel naik, jantung sehat akan menaikkan curah jantung sampai suatu maksimum dicapai dan curah jantung tidak dapat diperbesar lagi (prinsip Frank-Starling). Kenaikan volume sekuncup yang dicapai dengan cara ini disebabkan oleh regangan serabut-serabut miokardium, tetapi menaikkan tegangan dinding juga, dan menaikkan konsumsi oksigen miokardium.

Otot jantung dengan kontraktilitas intrinsik yang terganggu akan memerlukan derajat dilatasi yang lebih besar untuk menghasilkan kenaikan volume sekuncup dan tidak akan mencapai curah jantung maksimal sama seperti miokardium normal. Jika rongga jantung dilatasi karena lesi yang menyebabkan kenaikan preload (misal insufisiensi katup), hanya akan ada sedikit ruangan untuk dilatasi dan memperbesar curah jantung selanjutnya.

Transport oksigen sistemik dihitung sebagai hasil kali curah jantung dan kadar oksigen sistemik. Curah jantung dapat dihitung sebagai hasil kali frekuensi jantung dan volume sekuncup.Penentu utama volume sekuncup adalah preload, afterload, dan kontraktilitas. Perubahan dalam kemampuan darah membawa oksigen (misal anemia atau hipoksemia) akan juga menyebabkan penurunan dalam transport oksigen, dan jika mekanisme kompensatoir tidak cukup, dapat juga berakibat penurunan penghantaran substrat ke jaringan, suatu bentuk gagal jantung.

Satu mekanisme kompensatoir utama untuk menaikkan curah jantung adalah naiknya tonus simpatis, akibat bertambahnya sekresi epinefrin adrenal dalam sirkulasi dan bertambahnya pelepasan norepineprin saraf.Pengaruh manfaat awal rangsangan simpatis adalah kenaikan frekuensi jantung dan kontraktilitas miokardium, yang keduanya berperan menaikkan curah jantung.Karena vasokonstriksi yang terlokalisasi, aliran darah dapat didistribusikan lagi dari kulit, viseral dan bantalan kapiler ginjal ke jantung dan otak.Namun, kenaikan rangsangan simpatis yang lama dapat mempunyai pengaruh merugikan juga, termasuk hipermetabolisme, kenaikan afterload, aritmogenesis, kenaikan kebutuhan oksigen miokardium, dan toksisitas miokard langsung.Vasokonstriksi perifer dapat berakibat penurunan fungsi ginjal, hati dan saluran gastrointestinal.

E.      KOMPLIKASI GAGAL JANTUNG

1.       Kolestrol
2.       Hipertensi

F.      PEMERIKSAAN PENUNJANG GAGAL JANTUNG
1. Pemeriksaan Rontgen thorax
Nilai besar jantung, ada/tidaknya edema paru dan efusi pleura.  Tapi banyak juga pasien CHF tanpa disertai kardiomegali.
2. Pemeriksaan EKG
Nilai ritmenya, apakah ada tanda dari strain ventrikel kiri, bekas infark miokard dan bundle branch block (Disfungsi ventrikel kiri jarang ditemukan bila pada EKG sadapan a-12 normal).
Electrocardiography tidak dapat digunakan untuk mengukur anatomi LVH tetapi hanya merefleksikan perubahan elektrik (atrial dan ventrikular aritmia) sebagai faktor sekunder dalam mengamati perubahan anatomi. Hasil pemeriksaan ECG tidak spesifik menunjukkan adanya gagal jantung
3. Echocardiography
Mungkin menunjukkan adanya penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri, pembesaran ventrikel dan abnormalitas katup mitral.
Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan fisik, yang biasanya menunjukkan:
1.           denyut nadi yang lemah dan cepat
2.            tekanan darah menurun
3.           bunyi jantung abnormal
4.           pembesaran jantung
5.           pembengkakan vena leher
6.           cairan di dalam paru-paru
7.           pembesaran hati
8.           penambahan berat badan yang cepat
9.           pembengkakan perut atau tungkai.

4. Laboratorium
Pada saat ini terdapat metoda baru yang mempu menentukan gagal jantung yaitu pemeriksaan laboratorium BNP ( Brain Natriuretic Peptide) dan NT-pro BNP (N Terminal protein BNP. Kegunaan pemeriksaan BNP adalah untuk skrining penyakit jantung, stratifikasi pasien dengan gagal jantung, deteksi left ventricular systolic dan atau diastolic dysfunction serta untuk membedakan dengan dispnea. Berbagai studi menunjukkan kosentrasi BPN lebih akurat mendignosis gagal jantung

G.     PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Umum, Tanpa Obat-obatan
1.      Edukasi mengenai gagal jantung, penyebab, dan bagaimana mengenal serta upaya bila timbul keluhan, dan dasar pengobatan.
2.      Istirahat, olahraga, aktivitas sehari-hari, edukasi aktivitas seksual, serta rehabilitasi.
3.      Edukasi pola diet, kontrol asupan garam, air dan kebiasaan alkohol.
4.      Monitor berat badan, hati-hati dengan kenaikan berat badan yang tiba-tiba.
5.      Mengurangi berat badan pada pasien dengan obesitas.
6.      Hentikan kebiasaan merokok.
7.      Pada perjalanan jauh dengan pesawat, ketinggian, udara panas dan humiditas memerlukan perhatian khusus.
 Pemakaian obat-obatan
1.      Angiotensin-converting enzyme inhibitor/penyakit enzim konversi angiotensin
2.      Diuretik
3.      Penyekat beta
4.      Antagonis reseptor aldesteron
5.      Antagonis reseptor angiotensin II
6.      Glisosida jantung
7.      Vasodilator agents (nitrat/hidralazin)
8.       Nesiritid, merupakan peptid natriuretik tipe B
9.       Obat inotropik positif, dobutamin, milrinon, enoksimon
10.   Calcium sensitizer, levosimendan
11.   Antikoagulan
12.   Anti aritmia
13.   Oksigen

Pemakaian Alat dan Tindaka Bedah
1.  Revaskularisasi (perkutan, bedah)
2. Operasi katup mitral
3. Aneurismektomi
4.  Kardiomioplasti
5.  External cardiac support
6.  Pacu jantung, konvensional, resinkronisasi pacu jantung biventrikular
7.  Implantable cardioverter defibrillators (ICD)
8. Heart transplantation, ventricular assist devices, artificial heart
9. Ultrafiltrasi, hemodialisis











ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian

Pengkajian primer :
1.      Airway
¨      Apakah ada peningkatan sekret ?
¨      Adakah suara nafas : krekels ?
2.      Breathing
¨      Adakah distress pernafasan ?
¨      Adakah hipoksemia berat ?
¨      Adakah retraksi otot interkosta, dispnea, sesak nafas ?
¨      Apakah ada bunyi whezing ?
3.      Circulation
¨      Bagaimanakan perubahan tingkat kesadaran ?
¨      Apakah ada takikardi ?
¨      Apakah ada takipnoe ?
¨      Apakah haluaran urin menurun ?
¨      Apakah terjadi penurunan TD ?
¨      Bagaimana kapilery refill ?
¨      Apakah ada sianosis ?
Pengkajian sekunder
Riwayat penyakit
§ Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensi
§ Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung, hipertensi
§ Penggunaan obat digitalis, quinidin dan obat anti aritmia lainnya kemungkinan untuk terjadinya intoksikasi
§ Kondisi psikososial




Pengkajian fisik
Aktivitas                : kelelahan umum
Sirkulasi : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin O tidak teratur; defisit nadi;  bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung menurun berat.
Integritas ego     : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah, menangis.
Makanan/cairan               : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit
Neurosensori      : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
Nyeri/ketidaknyamanan               : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
Pernafasan          : penyakit paru kronis, nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
Keamanan           : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan

Diagnosa keperawatan dan IntervensiResiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.

Kriteria hasil       :
Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh TD/nadi dalam rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama, status mental biasa
Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya disritmia
Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokardia.


Intervensi :
Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, amplitudo dan simetris.
Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra, penurunan nadi.
Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perfusi jaringan.
Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial; disritmia ventrikel; blok jantung
Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas selama fase akut.
Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal relaksasi nafas dalam, bimbingan imajinasi
Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas dan faktor penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah mengkerut, menangis, perubahan TD
Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi
Kolaborasi :
Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit
Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmi
Siapkan untuk bantu kardioversi elektif
Bantu pemasangan/mempertahankan fungsi pacu jantung
Masukkan/pertahankan masukan IV
Siapkan untuk prosedur diagnostik invasif
Siapkan untuk pemasangan otomatik kardioverter atau defibrilator

1.      Kurang pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan dengan kurang informasi/salah pengertian kondisi medis/kebutuhan terapi.

Kriteria hasil       :
menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan efek samping obat


Intervensi :
Kaji ulang fungsi jantung normal/konduksi elektrikal
Jelakan/tekankan masalah aritmia khusus dan tindakan terapeutik pada pasien/keluarga
Identifikasi efek merugikan/komplikasiaritmia khusus contoh kelemahan, perubahan mental, vertigo.
Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat diperlukan; bagaimana dan kapan minum obat; apa yang dilakukan bila dosis terlupakan
Dorong pengembangan latihan rutin, menghindari latihan berlebihan
Kaji ulang kebutuhan diet contoh kalium dan kafein
Memberikan informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk dibawa pulang
Anjurkan psien melakukan pengukuran nadi dengan tepat
Kaji ulang kewaspadaan keamanan, teknik mengevaluasi pacu jantung dan gejala yang memerlukan intervensi medis
Kaji ulang prosedur untuk menghilangkan PAT contoh pijatan karotis/sinus, manuver Valsava bila perlu
DAFTAR PUSTAKA


1.      Hudak, C.M, Gallo B.M. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC.1997
2.      Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Alih bahasa Peter Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta : EGC ; 1994.3.      Santoso Karo karo. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1996
4.      Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.5.      Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;19996.     Hanafi B. Trisnohadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2001

0 komentar
Free Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Website templateswww.seodesign.usFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver