MENINGITIS
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit
infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama.
Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat.
Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau
mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka
kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.
Bakteri
penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian
penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus
influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis. Pada
penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang
dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1
kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan
15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka
kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2
tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok
usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%,
kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.
B. TUJUAN PENULISAN
Setelah dilakukan pembelajaran tentang Asuhan Keperawatan Anak dengan Meningitis, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Memahami tentang pengertian dari meningitis
2. Memahami tentang etiologi dari meningitis
3. Memahami tentang patofisiologi/pathway dari meningitis
4. Memahami tentang manifestasi klinis dari meningitis
5. Memahami tentang pemerikaan diagnosa dari meningitis
6. Memahami tentang penatalaksanaan medis dari meningitis
7. Memahami tentang pengkajian keperawatan meningitis
8. Memahami tentang diagnosa keperawatan yang muncul pada anak dengan meningitis
9. Memahami tentang perencanaan keperawatan meningitis
C. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I : PENDAHULUAN
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
B. ETIOLOGI
C. FAKTOR RESIKO
D. KLASIFIKASI
E. PATHOFIS,PATHWAY
F. KOMPLIKASI
G. MANIFESTASI KLINIS
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
I. PENATALAKSANAAN MEDIS
J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
L. PERENCANAAN
M. EVALUASI
BAB III : PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Meningitis
adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan
spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat. (Suriadi, dkk. Asuhan Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006)
Meningitis adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang disebabkan oleh berbagai organisme pathogen. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 )
Meningitis
merupakan infeksi parah pada selaput otak dan lebih sering ditemukan
pada anak-anak. Infeksi ini biasanya merupakan komplikasi dari penyakit
lain, seperti campak, gondong, batuk rejan atau infeksi telinga.
Meningitis
adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus
meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau
hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan
kepada orang lain yang menghirup udara tersebut. (Anonim, 2007 dalam Juita, 2008).
B. ETIOLOGI
1. Bakteri:
a. Neonatus sampai 2 bulan: GBS, basili gram negative, missal, Escherichia coli, Liateria monocytogenes, S. agalactiae (streptokokus gram B)
b. 1 bulan sampai 6 tahun: Neisseria meningitidis (meningokokus), Streptococcus pneumoniae, Hib
c. > 6 tahun: Neisseria meningitides, Streptococcus pneumoniae, parotitis (pre-MMR)
d. Mycobacterium tuberculosis: dapat menyebabkan meningitis TB pada semua umur. Pling sering pada anak umur 6 bulan sampai 6 tahun
2. Virus: Enterovirus (80%), CMV, arbovirus, dan HSV
C. FAKTOR RESIKO
1. Faktor predisposisi: laki-laki lebih sering disbanding dengan wanita
2. Faktor maternal: rupture membran fetal, infeksi metrnal pada minggu terakhir kehamilan
3.
Faktor imunologi: usia muda, defisiansi mekanisme imun, defek lien
karena penyakit sel sabit atau asplenia (rentan terhadap S. Pneumoniae dan Hib), anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi
4. Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan system persarafan
5.
Faktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi rendah: lingkungan
padat, kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena (penularan
melalui sekresi pernapasan)
D. KLASIFIKASI
1. Meningitis Purulenta:
Radang
selaput otak ( araknoidea dan piameter) yang menimbulkan eksudasi
berupa pus, disebabkan oleh kuman nonspesifik dan nonvirus.
2. Meningitis Tuberkulosa:
Terjadi
akibat komplikasi penyebaran tuberculosis primer, biasanya dari paru.
Meningitis terjadi bukan karena terimfeksinya selaput otak langsung oleh
penyebaran hematogen, tetapi biasanya sekunder melalui pembentukan
tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang
kemudian pecah ke rongga araknoid (Rich dan McCordeck). Anak-anak yang
ibunya menderita TBC kadang-kadang mendapatkan meningitis tuberkolusa
pada bulan-bulan pertama setelah lahir.
(Ngastiyah,2005)
E. PATOFISIOLOGI
Meningitis
terjadi akibat masuknya bakteri ke ruang subaraknoid, baik melalui
penyebaran secara hematogen, perluasan langsung dari fokus yang
berdekatan, atau sebagai akibat kerusakan sawar anatomik normal secara
konginetal, traumatik, atau pembedahan. Bahan-bahan toksik bakteri akan
menimbulkan reaksi radang berupa kemerahan berlebih (hiperemi) dari
pembuluh darah selaput otak disertai infiltrasi sel-sel radang dan
pembentukan eksudat. Perubahan ini terutama terjadi pada infeksi bakteri streptococcus pneumoniae dan H. Influenzae dapat terjadi pembengkakan jaringan otak, hidrosefalus dan infark dari jaringan otak.
Efek
peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan cerebro spinalis yang
dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi hidrosefalus dan
peningkatan TIK. Efek patologi dari peradangan tersebut adalah hiperemi
pada meningen. Edem dan eksudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan
intrakranial. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, ed.2, 2005)
Penyebaran
hematogen merupakan penyebab tersering, dan biasa terjadi pada adanya
fokus penyakit lain (misalnya, pneumonia, otitis media, selulitis) atau
akibat bakteremia spontan. Oleh karena patogen-lazim menyebar melalui
jalur pernapasan , peristiwa awalnya adalah kolonisasi traktus
respiratorius bagian atas.
Meningitis
yang disebabkan oleh penyebaran nonhematogen mencakup penyebaran
infeksi dari daerah infeksi yang berdekatan ( otitis media, mastoiditis,
sinusitis, osteomielitis vertebralis atau tulang kranialis) serta
kerusakan anatomi (fraktur dasar tengkorak, pasca-prosedur bedah saraf,
atau sinus dermal konginetal di sepanjang aksis kraniospinalis).
Gambaran lazim setiap penyebab infeksi adalah masuknya bakteri patogen
ke dalam ruang subaraknoid dan perbanyakan bakteri. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 )
Meningitis
biasanya mulai perlahan-lahan tanpa panas atau terdapat kenaikan suhu
yang ringan saja, jarang terjadi akut dengan panas yang tinggi. Sering
dijumpai anak mudah terangsang atau menjadi apatis dan tidurnya sering
terganggu. Anak besar dapat mengeluh nyeri kepala. Anoreksia, obstipasi,
dan muntah juga sering dijumpai.
Stadium
ini kemudian disusul dengan stadium transisi dengan kejang. Gejala di
atas menjadi lebih berat dan gejala rangsangan meningeal mulai nyata,
kuduk kaku, seluruh tubuh menjadi kaku dan timbul opistotonus. Refleks
tendon menjadi lebih tinggi, ubun-ubun menonjol dan umumnya juga
terdapat kelumpuhan urat saraf mata sehingga timbul gejala strabismus
dan nistagmus. Sering tuberkel terdapat di koroid. Suhu tubuh menjadi
lebih tinggi dan kesadaran lebih menurun hingga timbul stupor.
Stadium
terminal berupa kelumpuhan-kelumpuhan, koma menjadi lebih dalam, pupil
melebar dan tidak bereaksi sama sekali. Nadi dan pernapasan menjadi
tidak teratur, sering terjadi pernafasan `Cheyne-Stokes`.
Hiperpireksia
timbul dan anak meninggal tanpa kesadarannya pulih kembali. Tiga
stadium tersebut biasanya tidak mempunyai batas yang jelas antara satu
dengan lainnya, namun jika tidak diobati umumnya berlangsung 3 minggu
sebelum anak meninggal. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, ed.2, 2005)
F. KOMPLIKASI
a. Hidrosefalus obstruktif
b. Meningococcal septicemia (mengingocemia)
c. Sindrom Water Friderichsen (septic syok, DIC, perdarahan adrenal bilateral)
d. SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic Hormone)
e. Efusi subdural
f. Kejang
g. Edema dan herniasi serebral
h. Cerebral Palsy
i. Gangguan mental
j. Gangguan belajar
k. Attention deficit disorder
G. MANIFESTASI KLINIS
Trias
klasik gejala meningitis adalah demam, sakit kepala, dan kaku kuduk.
Namun pada anak di bawah usia dua tahun, kaku kuduk atau tanda iritasi
meningen lain mungkin tidak ditemui. Peruban tingkat kesadaran lazim
terjadi dan ditemukan pada hingga 90% pasien. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 )
Pada bukunya, Wong menjabarkan manifestasi dari meningitis berdasarkan golongan usia sebagai berikut:
Anak dan Remaja
a. Awitan biasanya tiba-tiba
b. Demam
c. Mengigil
d. Sakit kepala
e. Muntah
f. Perubahan pada sensorium
g. Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal )
h. Peka rangsang
i. Agitasi
j. Dapat terjadi:
Fotofobia
Delirium
Halusinasi
Perilaku agresif atau maniak
Mengantuk
Stupor
Koma
k. Kekakuan nukal
Dapat berlanjut menjadi opistotonus
l. Tanda Kernig dan Brudzinski positif
m. Hiperaktif tetapi respons refleks bervariasi
n. Tanda dan gejala bersifat khas untuk setiap organisme:
Ruam ptekial atau purpurik (infeksi meningokokal), terutama bila berhubungan dengan status seperti syok.
Keterlibatan sendi (infeksi meningokokal dan H. influenzae)
Drain telinga kronis (meningitis pneumokokal)
Bayi dan Anak Kecil
Gambaran klasik jarang terlihat pada anaka-anak antara usia 3 bulan dan 2 tahun
a. Muntah
b. Peka rangsangan yang nyata
c. Sering kejang (seringkali disertai dengan menangis nada tinggi)
d. Fontanel menonjol
e. Kaku kuduk dapat terjadi dapat juga tidak
f. Tanda Brudzinski dan Kernig bersifat tidak membantu dalam diagnosa
g. Sulit untuk dimunculkan dan dievaluasi dalam kelompok usia
h. Empihema subdural (infeksi Haemophilus influenza)
Neonatus: Tanda-tanda Spesifik
a. Secara khusus sulit untuk didiagnosa
b. Manifestasi tidak jelas dan tidak spesifik
c. Baik pada saat lahir tetapi mulai terlihatmenyedihkan dan berperilaku buruk dalam beberapa hari
d. Menolak untuk makan
e. Kemampuan menghisap buruk
f. Muntah atau diare
g. Tonus buruk
h. Kurang gerakan
i. Menangis buruk
j. Fontanel penuh, tegang, dan menonjol dapat terlihat pada akhir perjalanan penyakit
k. Leher biasanya lemas
Tanda-tanda Nonspesifik yang Mungkin Terjadi pada Neonatus
a. Hipotermia atau demam (tergantung pada maturitas bayi)
b. Ikterik
c. Peka rangsang
d. Mengantuk
e. Kejang
f. Ketidakteraturan pernapasan atau apnea
g. Sianosis
h. Penurunan berat badan
(Donna L. Wong. Pedoman Keperawatan Pediatrik,ed.4,2003 )
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSA
1. Punksi Lumbal : tekanan cairan meningkat, jumlah sel darah putih meningkat, glukosa menurun, protein meningkat.
Indikasi Punksi Lumbal:
a. Setiap pasien dengan kejang atau twitching baik yang diketahui dari anamnesis atau yang dilihat sendiri.
b. Adanya paresis atau paralysis. Dalam hal ini termasuk strabismus karena paresis N.VI.
c. Koma.
d. Ubun-ubun besar menonjol.
e. Kuduk kaku dengan kesadaran menurun.
f. Tuberkulosis miliaris dan spondilitis tuberculosis.
g. Leukemia.
2. Kultur swab hidung dan tenggorokan (Suriadi, dkk. Asuhan Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006)
3.
Darah: leukosit meningkat, CRP meningkat, U&E, glukosa, pemeriksaan
factor pembekuan, golongan darah dan penyimpanan.
4. Mikroskopik, biakan dan sensitivitas: darah, tinja, usap tenggorok, urin, rapid antigen screen.
5. CT scan: jika curiga TIK meningkat hindari pengambilan sample dengan LP.
6. LP untuk CSS: merupakan kontra indikasi jika dicurigai tanda neurologist fokal atau TIK meningkat.
7. CSS pada meningitis bakteri: netrofil, protein meningkat (1-5g/L), glukosa menurun (kadar serum <50%)
8.
CSS pada meningitis virus: limfosit (pada mulainya netrofil), protein
normal/meningkat ringan, glukosa normal, PCR untuk diagnosis.
9. CSS: mikroskopik (pulasan Gram, misal, untuk basil tahan asam pada meningitis TB), biakan dan sensitivitas.
I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan
efektif untuk meningitis bergantung pada terapi suportif agresif yang
dini dan pemilihan antimikroba empirik yang tepat untuk kemungkinan
patogen. Tindakan suportif umum diindikasikan bagi setiap pasien yang
menderita patologi intrakranium berat.
Pasien
dengan Meningitis purulenta pada umumnya dalam keadaan kesadaran yang
menurun dan seringkali disertai muntah-muntah atau diare. Untuk
menghindari kekurangan cairan/elektrolit, pasien perlu langsung dipasang
cairan intavena. Jika terdapat gejala asidosis harus dilakukan koreksi.
Pengelolaan cairan merupakan hal yang sangat penting pada pasien
meningitis. Sindrom sekresi hormon antidiuretik yang tidak tepat (SIADH, syndrome of inappropriate antidiuretic hormone secretion)
terjadi pada sekitar 30% pasien meningitis, dan jika ditemukan, harus
dilakukan pembatasan cairan. Meskipun demikian, sebuah studi klinis
telah membuktikan pentingnya memelihara tekanan perfusi otak yang
adekuat pada penyakit ini. Pembatasan cairan secara tidak tepat dapat
menimbulkan deplesi volume, yang jika ekstrim, dapat menuju pada
ketidakadekuatan volume sirkulasi. Sebaiknya cairan mula-mula dibatasi,
sementara menunggu pemeriksaan elektrolit urin dan serum. Bila terdapat
SIADH, pembatasan cairan sampai dua pertiga cairan pemeliharaan
merupakan tindakan yang tepat, sampai kelebihan hormon antidiuretuk
pulih; bila tidak terdapat SIADH, cairan harus diberikan dalam jumlah
yang sesuai dengan derajat kekurangan cairan, dan elektrolit diawasi
secara seksama.
Terapi
peningkatan tekanan intrakranium harus diarahkan pada pemeliharaan
derajat tekanan perfusi otak yang adekuat, seperti pada kondisi lain
yang dipersulit oleh hipertensi intrakranium. Cara yang ada bisa
termasuk hiperventilasi, pengambilan CSS melalui kateter intraventrikel,
atau mungkin pemakaian obat diuretikosmotik secara hati-hati.
Pada
kecurigaan meningitis, antibiotik intravena diberikan secara empiric
sementara menunggu hasil biakan. Pemilihan antibiotik awal didasarkan
pada kemungkinan pathogen menurut kelompok usia, pajanan yang diketahui,
dan setiap faktor resiko yang tidak lazim bagi pasien. Prinsip terapi
antimikroba meningitis mencakup pemilihan antibiotik yang bersifat
bakterisid terhadap pathogen yang dicurigai dan yang mampu mencapai
konsentrasi CSS setidaknya sepuluh konsentrasi bakterisid minimal untuk
organisme tersebut, karena inilah konsentrasi yang dalam penelitian
hewan telah terbukti berkolerasi dengan sterilisasi CSS paling efektif. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 )
Bila
pasien masuk dalam keadaan status konvulsivus, diberikan diazepam 0,5
mg/kg BB/kali IV, dan dapat diulang dengan dosis yang sama 15 menit
kemudian bila kejang belum berhenti. Ulangan pemberian diazepam
berikutnya (yang ketiga kali) dengan dosis sama tetapi diberikan secara
IM. Setelah kejang dapat diatasi, diberikan fenobarbital dosis awal
untuk neonatus 30 mg; anak < 1 tahun 50 mg dan anak > 1 tahun 75
mg. Selanjutnya untuk pengobatan rumat diberikan fenobarbital dengan
dosis 8-10 mg/kg BB/hr dibagi dalam 2 dosis, diberikan selama 2 hari
(dimulai 4 jam setelah pemberian dosis awal). Hari berikutnya dengan
dosis 4-5 mg/kgBB/hr dibagi dalam 2 dosis. Bila tidak tersedia
diazepam, fenobarbital dapat langsung diberikan dengan dosis awal dan
selanjutnya dosis rumat.
Penyebab utama meningitis purulenta pada bayi atau anak di Indonesia(Jakarta) ialah H. influenzaedan pneumoccocus sedangkan
meningococcus jarang sekali,maka diberikan ampisilin IV sebanyak
400mg/kg BB/hr dibagi 6 dosis ditambah kloramfenikol 100mg/kg BB/hr iv
dibagi dalam 4 dosis. Pada hari ke 10 pengobatan dilakukan pungsi lumbal
ulangan dan bila ternyata menunjukkan hasil yang normal pengobatan
tesebut dilanjutkan 2 hari lagi. Tetapi jika masih belum dan pengobatan
dilanjutkan dengan obat dan cara yang sama seperti di atas dan diganti
dngan obat yang sesuai dengan hasil biakan dan uji resistensi kuman.
Meningitis paru pada neunatus berbeda,karena biasa dan disebabkan oleh baksil colifom danstaphylococcus, maka pengobatan pada neonatus sebagai berikut:
Pilihan pertama:
Sefalosporin 200mg/kg BB/hr IV dibagi dalam 2 dosis, dikombinasi dengan
amikasin dengan dosis awal 10 mg/kg BB/hr IV,dilanjutkan dengan dosis
15 mg/kg BB/hr atau dengan gentamisin 6 mg/kg BB/hr masing-masing dibagi
dalam 2 dosis.
Pilihan kedua :
Amphisilin 300-400 mg/kg BB/hr IV dibagi dalam 6 dosis,dikombinasi
dengan kloramfenikol 50 mg/kg BB/hr IV dibagi dalam 4 dosis. Pada bayi
kurang bulan dosis kloramfenikol tidak boleh melebihi 30 mg/kg Bb/hr
(dapat terjadi grey baby).
Pilihan
selanjutnya kotrimoksazol 10 mg TMP/kg BB/hr IV dibagi dalam 2 dosis
selama 3 hari dilanjutkan dengan dosis 6 mg TMP/kg BB/hr IV dibagi dalam
2 dosis. Lama pengobatan neonatus adalah 2 hr.
Sefalosporin dan kotrimaksozol tidak diberikan pada bayi yang berumur kurang 1 minggu.
Ulangan pungsi lumbal pada meningitis paru anak dilakukan pada hari ke 10 pengobatan sedang pada neunatus pada hari ke 21. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, ed.2, 2005)
Terapi
pilihan pada bayi yang telah mengalami meningitis bakterial dengan
komplikasi hidrocephalus adalah dilakukan pembedahan dengan tujuan untuk
pemasangan shunt guna mengalirkan cerebrospinal fluid yang tersumbat di
dalam otak. Ada beberapa jenis shunt antara lain (VP) ventrikulo
peritoneal shunt dan (VA) ventriculoatrial shunt.
Penatalaksanaan pada bayi dengan hidrocehalus adalah pemberian posisi head up dan pengawasan pemberian cairan yang adekuat.
J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Riwayat keperawatan: riwayat kelahiran, penyakit kronis, neoplasma riwayat pembedahan pada otak, cedera kepala
2.
Pada Neonatus: kaji adanya perilaku menolak untuk makan, reflek
menghisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak dan
menangis lemah
3.
Pada anak-anak dan remaja: kaji adanya demam tinggi, sakit kepala,
muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang mudah terstimulasi
dan teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau
maniak, penurunan kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda Kernig dan
Brudzinsky positif, refleks fisiologis hiperaktif, ptechiae atau
pruritus
4.
Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun): kaji adanya demam,
malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dengan
merintih, ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda Kernig dan
Brudzinsky positif
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
2. Resiko terjadinya peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan infeksi pada selaput otak
3. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kejang,reflek meningkat
4. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius
L. PERENCANAAN
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
a. Tujuan 1 :
Pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak
b. Intervensi keperawatan/Rasional:
1) Biarkan anak mengambil posisi yang nyaman:
i) Gunakan posisi miring, bila ditoleransi, karena kaku kuduk
ii) Tinggikan sedikit kepala tempat tidur tanpa menggunakan bantal karena hal ini seringkali menjadi posisi yang paling tidak nyaman
2) Berikan analgesik sesuai ketentuan, terutama asetaminofen dengan kodein
c. Hasil yang diharapkan:
Anak tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri atau tanda-tanda nyeri yang dialami anak minimum
2. Resiko terjadinya peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan infeksi pada selaput otak.
a. Tujuan:
Tekanan intra karanial (TIK) tetap atau berkurang menuju normal
b. Intervensi keperawatan/rasional:
1. Kaji tanda vital, GCS (jika dapat dilakukan) dan tanda-tanda dari terjadinya penurunan kesadaran
2. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman
3. Beri posisi head up ± 3 cm
4. Ukur lingkar kepala setiap hari
5. Olaborasi dalam pemberian cairan adekuat
6. Berikan obat sesuai dengan program; antibiotic, antipiretik, dan antikonvulsan
7. Ikut sertakan keluarga dalam perawatan bayi secara aktif
c. Hasil yang diharapkan:
Tidak
terjadi peningkatan tekanan intrakranial selama dalam masa perawatan,
dengan kriteria; reaksi pupil terhadap cahaya (+), refleks normal, gerak
dan tangis yang kuat, respirasi spontan, suhu dalam batas normal.
3. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kejang,reflek meningkat
a. Tujuan 1:
Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
b. Intervensi keperawatan/Rasional:
1) Bantu praktisi kesehatan mendapat kultur yang diperlukan untuk mengidentifikasikan organisme penyebab
2) Berikan antibiotic, sesuai resep, dan segera setelah diinstruksikan
3) Pertahankan rute intravena untuk pemberian obat
c. Hasil yang diharapkan:
Anak menunjukkan bukti-bukti penurunan gejala
d. Tujuan 2:
Pasien tidak menyebabkan infeksi ke orang lain
e. Intervensi keperawatan/ Rasional:
1) Implementasikan pengendalian infeksi yang tepat:
a) Tempatkan anak di ruang isolasi selama sedikitnya 24 jam setelah awal terapi antibiotik
b) Pantau tanda-tanda vital untuk tanda awal proses infeksi
c) Observasi adanya tanda-tanda infeksi khusus pada penyakit anak
2) Instruksikan orang lain (keluarga, anggota staf) tentang kewaspadaan yang tepat
3) Berikan vaksinasi yang tepat:
i) Berikan vaksin rutin sesuai usia (mis., vaksin untuk mencegah H. influenzae tipe B [Hib])
ii)
Identifikasi kontak erat dan anak berisiko tinggi yang dapat memperoleh
manfaat dari vaksinasi (mis., vaksinasi meningokokus)
f. Hasil yang diharapkan:
Orang lain tetp bebas dari infeksi
g. Tujuan 3 :
Pasien tidak mengalami komplikasi
h. Intervensi keperawatan/ Rasional:
1) Observasi dengan ketat adanya tanda-tanda komplikasi, terutama peningkatan TIK, syok, dan distres pernapasan, sehingga dapat dilakukan tindakan kedaruratan
2) Pertahankan hirasi optimal sesuai ketentuan
3) Pantau dan catat masukan dan keluaran untuk
mengidentifikasi komplikasi seperti ancaman syok atau peningkatan
akumulasi cairan yang berhubungan dengan edema serebral atau efusi
subdural
4) Kurangi stimulus lingkungan, karena anak mungkin sensitif terhadap kebisingan, sinar terang, dan stimulus eksternal lainnya
5) Implementasikan kewaspadaan keamanan yang tepat karena anak sering gelisah dan kejang
6)
Jelaskan pentingnya perawatan tindak lanjut pada orang tua karena
sekuel neurologis, termasuk penurunan pendengaran mungkin tidak tampak
selama penyakit akut
i. Hasil yang diharapkan:
Anak tidak mengalami komplikasi
4.Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius
a. Tujuan :
Pasien (keluarga) mendapatkan dukungan yang adekuat
b. Intervensi keperawatan/Rasional:
1) Dorong keluarga untuk mendiskusikan perasaan untuk meminimalkan rasa bersalah dan saling menyalahkan
2) Yakinkan
keluarga bahwa awitan meningitis bersifat tiba-tiba dan bahwa mereka
sudah bertindak dengan penuh tanggung jawab dengan mencari bantuan medis untuk meminimalkan rasa bersalah dan saling menyelahkan
3)
Pertahankan agar keluarga tetap mendapat informasi tentang kondisi
anak, kemajuan, prosedur, dan tindakan untuk mengurangi kecemasan
c. Hasil yang diharapkan:
Anak (keluarga) mendapatkan dukungan yang cukup
M. EVALUASI
Angka
motalitas meningitis sangat bervariasi, tergantung pada usia pasien dan
patogen penyebab. Pasien dengan meningitis meningokokus tanpa
meningokoksemia berat mempunyai angka fatalitas sebesar hanya 20%,
sedangkan neonatus dengan meningitis gram negative meninggal dalam 70
kasus. Angka kematian akibat H. influenzae dan S. pneumoniae masing-masing adalah sekitar 3% dan 6%.
Gejala
sisa penyakit terjadi pada kira-kira 30% penderita yang bertahan hidup,
tetapi juga terdapat predileksi usia serta petogen, dengan insidensi
terbesar pada bayi yang sangat muda serta bayi yang terinfeksi bakteri
gram negative dan S. pneumoniea.
Gejala
sisa neurologi tersering adalah tuli, yang terjadi pada 3-25% pasien;
kelumpuhan saraf kranial pada 2-7% pasien; dan cidera berat seperti
hemiparesis atau cidera otaku mum pada 1-2% pasien. Lebih dari 50%
pasien dengan gejala sisa neurologi pada saat pemulangan dari RS akan
membaik seiring waktu, dan keberhasilan dalam implant koklea belum lama
ini memberi harapan pada anak dengan kehilangan pendengaran.
Pencegahan
meningitis saat ini terdiri atas dua bentuk: kemoprokfilaksis terhadap
individu rentan yang diketahui terpajan pada pasien yang mengidap
penyakit (pasien indek) serta imunisasi aktiv. Sekarang,
kemoprokfilaksis diindikasikan untuk mencegah meningitis sekunder yang
disebabkan oleh H. influenzae dan N. meningitides.
Imunisasi aktiv terhadap H. influenzae telah
menghasilkan penguangan dramatis pada penyakit invasive, dengan
pengurangan sebanyak 70-80% pada meningitis akibat organisme tersebut.
Saat ini imunisasi dianjurkan untuk bayi sebagai rangkain imunisasi tiga
dosis pada usia 2,4,6 bulan.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Otak
dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur
syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis
cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis,
yaitu:
a.
Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah
pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang
sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
c. Dura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
Komponen
intrakaranial terdiri dari: parenkim otak, sistem pembuluh darah, dan
CSF. Apabila salah satu komponen terganggu, akan mengakibatkan
peningkatan tekanan intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan fungsi
neurologis.
Meningitis
merupakan salah satu jenis infeksi yang menyeranga susunan saraf pusat,
dimana angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pada banyak
penyakit yang mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis
penyakit sangat ditentukan pada permulaan pengobatan. Beberapa bakteri
penyebab meningitis ini tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien
meningitis tidak menularkan penyakit melalui saluran pernapasan. Resiko
terjadinya penularan sangat tinggi pada anggota keluarga serumah,
penitipan anak, kontak langsung cairan ludah seperti berciuman. Perlu
diketahui juga bahwa bayi dengan ibu yang menderita TBC sangat rentan
terhadap penyakit ini.
Meningitis
adalah infeksi pada cairan otak dan selaput otak (meningen) yang
melindungi otak dan medulla spinalis. Meningitis bacterial merupakan
penyakit yang sangat serius dan fatal.
Diagnose
keperawatan yang muncul tergantung dengan kondisi saat pengkajian, tapi
yang utama adalah Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi; resiko
terjadi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan Infeksi pada
selaput otak; resiko cedera berhubungan dengan kejang, reflek
meningkat; perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang
menderita penyakit serius.
B. SARAN
Mengerti
dan memahami gejala meningitis sangat penting untuk menegakkan
diagnosis sedini mungkin. Diagnosis dan pengobatan dini mencegah
terjadinya komplikasi yang bersifat fatal. Mengetahui penyebab
meningitis sangat penting untuk menentukan jenis pengobatan yang
diberikan. Vaksin untuk mencegah terjadinya meningitis bakterial telah
tersedia, dan sangat dianjurkan untuk diberikan jika berada atau akan
berkunjung ke daerah epidemik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Alpers,Ann.2006.Buku Ajar Pediatri Rudolph. Ed.20.Jakarta:EGC.
3. Brough,Hellen,et al.2007.Rujukan Cepat Pediatri dan Kesehatan Anak.Jakarta:EGC.
4. Ngastiyah.2005.Perawatan Anak Sakit.Ed.2.Jakarta:EGC
Suriadi, Rita Yuliani.2006.Asuhan keperawatan pada Anak Ed.2.Jakarta:Percetakan Penebar S
0 komentar:
Posting Komentar